HISTOGRAFI Kearifan Lokal / Local Wisdom Investasi Ternak Ketua Pangon Desa Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah
Hidup harus tetap berlanjut. Biarkan saja badai datang silih berganti. Sekejap kan malih rupa. Menjadi terpaan semilir bayu warna. Terasa lembut. Membuai luka yang mungkin pernah ada. Begitupun kehidupan para warga pedesaan. Mereka tetap akan hidup. Bermula dari agraris tradisional. Konservatif. Terlihat sekedar menjalankan hidup. Tanpa sentuhan keindahan. Kemudian berubah sesuai tuntutan jaman. Konsekuensinya, mau tak mau, mereka tinggalkan local wisdom kearifan lokal yang pernah ada.
Bagi saudara-saudara warga pedesaan, mengikuti local wisdom atau kearifan lokal dengan pola kehidupan agraris, agaknya sudah tidak relevan lagi. Tidak relevan ketika dikorelasikan dengan ketersediaan sumber daya dan kebutuhan jaman sekarang. Pola kehidupan agraris masa lalu begitu sederhananya. Bagi perempuan dan anak, butuhnya cukup makan dan pakaian. Anak tidak butuh pengetahuan yang tidak perlu. Cukup bisa baca huruf Al Qur’an, membaca, menulis, berhitung (calistung) menggunakan huruf dan angka Latin. Dan satu lagi, tahu bahasa sederhana khusus untuk hewan.
Kearifan lokal (local wisdom) tentang Bahasa Khusus Hewan ada pada postingan tersendiri. Secara garis besar, kita berusaha mengingatkan bahwa para leluhur cukup hormat dengan sesama makhluk. Hingga muncul beberapa kata baku untuk berkomunikasi dengan hewan ternak. Sebenarnya bukan hanya hewan ternak. Bila dicermati, bahasa yang diperuntukkan bagi hewan liarpun juga pernah diciptakan leluhur kita, sehingga muncullah para pawang binatang liar. Para Pawang itu berkomunikasi dengan hewan dengan cara dan bahasa mereka.

Local Wisdom (Kearifan Lokal) Ternak Sebagai Investasi
Dalam local wisdom (kearifan lokal) masyarakat agraris perdesaan, tugas anak hanya bermain sambil membantu orang tua. Terutama mengurusi ternak orang tua mereka. Masyarakat agraris perdesaan memelihara ternak sebagai cadangan “kebutuhan besar”, atau sebagai “tabungan”. Mereka tidak mengenal bank, tidak mengenal investasi usaha. Tabungan mereka adalah hewan ternak. Investasi mereka bukan tanah, tapi hewan ternak.
Memelihara hewan ternak adalah satu-satunya local wisdom (kearifan lokal) di bidang investasi. Nenek moyang / para leluhur warga agraris tidak mengenal investasi tanah, rumah, emas apalagi dolar. Tanah mereka hormati sebagai lahan bercocok tanam. Rumah dirawat sebagai rasa terima kasih pada Tuhan atas perlindungan dari cuaca ekstrim. Emas digunakan sebagai perhiasan. Uang hanya dipandang sebagai salah satu alat tukar. Uang logam digunakan sebagai alat hitung pemilihan hari baik.
Pada proses pemeliharaannya, leluhur mengenal kasih sayang pada hewan ternak. Kadang penghormatan yang berlebihan. Setiap pagi pada hari-hari tertentu dimandikan pakai air hangat. Terutama untuk hewan ternak berupa sapi. Diberi minum campuran air garam. Tiap malam di”bediangi” atau dibuatkan asap untuk menjaga dari nyamuk. Dan beberapa bentuk kearifan lokal (local wisdom) lain, yang bisa jadi kita bahas pada postingan lain.
Simbol Penggembala Kerbau sebagai Kearifan Lokal (Local Wisdom)
Pengembala kerbau, biasa digunakan sebagai simbol produktertentu. Bukan hanya produk cat lokal, perusahaan intelek sebesar KOMPAS GRAMEDIA pun menggunakan gembala kerbau sebagai simbolnya. Tidak itu saja, tak jarang kita temui lukisan penghias dinding dari rumah sederhana hingga rumah mewah biasa kita temui lukisan penggembala. Dan kebanyakan bukan penggembala sapi atau kambing. Tapi penggembala kerbau.
Dan, usia penggembala adalah usia anak-anak. Pose yang diambil rata-rata statis. Atribut yang digunakan juga relatif sama, seruling bambu dan caping atau topi petani dari bambu. Topi petani atau caping, berbentuk kerucut lebar. Sambil menunggang kerbau...!. Andaikan ada ornamen tambahan, maka ornamen itu berbentuk pohon kelapa dan matahari. Jadi, simbol atau lukisan itu berbentuk seorang anak bermain seruling di atas punggung kerbau pada waktu menjelang senja hari.
Pertanyaannya sekarang, mengapa anak-anak? Bukan orang dewasa? Jawabnya sangat sederhana. Karena, kultur kita memang mewariskan seperti itu. Pekerjaaan menggembala ternak adalah pekerjaan anak-anak. Bukan pekerjaan orang dewasa. Dalam hal ini lebih tepat bila maknai sebagai pekerjaan kelompok non produktif. Karena, pekerjaan menggembala ternak juga dilakukan oleh orang-orang lanjut usia. Hanya, yang membedakan adalah, dulu sering ditemukan anak yang bekerja sebagai penggembala atau sering disebut 'pangon'. Sedangkan tidak pernah ditemui 'pangon' lanjut usia.
Definisi 'pangon' adalah seorang anak yang bekerja kontrak sebagai penggembala binatang ternak pada seorang pemilik ternak dengan imbalan satu atau beberapa ekor anak ternak bila waktu kontrak telah selesai, selama masa kontrak pangon diberikan tempat menginap, makan, minum, pakaian sekedarnya, dan bila terjadi kerugian yang disebabkan kelalaian 'pangon' menjadi tanggungan majikan ('Ndara') atau tuannya. Dalam satu Desa dapat ditemukan beberapa anak berprofesi sebagai 'pangon'.

Kepala Pangon sebagai Kearifan Lokal (Local Wisdom)
Karena usia penggembala atau 'pangon' masih di bawah umur, maka sudah dapat dipastikan bila tingkat human errornya juga tinggi. Bagi anak-anak, lokasi penggembalaan adalah arena permainan juga. Sambil menggembala, sambil bermain. Tidak perduli kemarau atau penghujan. Mereka tetap bersosialisasi, bermain sambil menjaga ternak mereka.
Namanya juga anak-anak. Bermain sepanjang waktu. Saat sendiri tetap bermain, apalagi bila sudah bertemu teman sebaya. Wajar bila akuntabilitas mereka juga kurang. Sulit membagi konsentrasi antara menggembala dengan bermain. Kasus yang kerap kali timbul, karena konsentrasi mereka beralih ke permainan, hewan ternak jadi tak terjaga dengan baik. Hewan ternak masuk area tanaman.
Bisa tanaman penduduk sipil, bisa tanaman milik Perhutani kalau di Jawa. Oleh orang lokal Jawa, tanaman milik Perhutani biasa disebut dengan 'jangglengan'. Janggleng sendiri adalah nama biji pohon Jati. Memang jarang yang mengakibatkan kerusakan tanaman sampai fatal. Tapi sudah cukup menimbulkan konflik horisontal antara pemilik tanaman dengan pemilik ternak.
Untuk meminimalisir konflik semacam ini, maka ditunjuklah seorang anak gembala paling tua untuk dijadikan sebagai Kepala Pangon. Melalui kearifan lokal (local wisdom) penunjukan Kepala Pangon ini biasanya dilakukan oleh seorang Kamituwo atau Kepala Dukuh. Tugas pokok dan fungsi Kepala Pangon bukanlah seperti atasan, tapi lebih pada jalur koordinasi. Hanya, untuk memudahkan penyebutan, masyarakat agraris saat itu menyebutnya dengan Kepala Pangon dan bukan Ketua Pangon.
Namun agaknya local wisdom (kearifan lokal) tentang Kepala Pangon ini sudah tidak diimplementasikan lagi pada tata kehidupan masyarakat Jawa sekarang. Para petani sekarang memilih mengandangkan ternak mereka daripada menggembalakannya. Tiap hari mereka mengalahi 'ngarit' (menyabit rumput). Mencari 'dami' (jerami) kadang sampai luar daerah, atau membeli 'tebon' (batang jagung) berdaun untuk ternaknya di kandang rumah. Semua itu dilakukan karena keinginan berinvestasi berupa ternak seiring dengan semakin sempitnya lahan penggembalaan. (Heri ireng)
Read More »
Kearifan Lokal (Local Wisdom) Bahasa Khusus Hewan cepu blora
Dalam kearifan lokal (local wisdom) leluhur Jawa, mungkin tidak hanya di Cepu atau Blora, ada beberapa bahasa sederhana yang pemakaiannya hanya digunakan untuk hewan. Bisa jadi, bahasa khusus untuk hewan ternak ini merupakan aktualisasi penghormatan leluhur pada hewan. Bentuk aktualisasi lain yang menumbuhkan penghormatan bagi hewan adalah adanya legenda malihnya manusia menjadi binatang. Semisal kera spesies “lutung” atau “benthung” adalah malihan dari seorang anak yang tidak sabaran. Dan masih banyak lagi.
Kearifan lokal (local wisdom) tentang bahasa khusus hewan paling biasa digunakan adalah bahasa untuk hewan ternak besar berkaki empat. Hewan ternak besar berkaki empat ini biasa disebut raja kaya. Meskipun pada akhirnya, hewan kuda dan yang sejenis dengan kuda juga termasuk kategori ini. Bahasa khusus hewan itu adalah “jak”, “her”, “go”, “ce’” dan “nggon”. Silahkan pada para pembaca, mungkin ada beberapa suku kata lagi yang bisa menambahi.
Dalam kearifan lokal (local wisdom) Bahasa Khusus Hewan, kata yang dipergunakan memang kebanyakan terdiri dari satu suku kata saja. Lebih mudah dimaknai sebagai bahasa isyarat. Namun bila disebut bahasa isyarat juga tidak tepat, karena sudah menghasilkan bunyi dialogis. Sedangkan bila dikatakan sebagai Bahasa Khusus Hewan, tidak begitu tepat juga. Seakan kita membuat kategori bahasa lagi. Dan itu terkesan terlalu mewah bagi para ahli bahasa.
Pada jenis hewan lain, hingga sekarang kitapun masih sering menggunakannya. Penggunaan bahasa ini juga dikategorikan sebagai sebuah kearifan lokal (lokal wisdom). Salah satunya adalah “puss”, untuk memanggil kucing. Bahkan agaknya, khusus suku kata “puss” ini bisa dikategorikan kearifan universal (universal wisdom). Hampir di seluruh dunia menggunakan kata “puss” untuk memanggil kucing. Bila ada yang memanggil kucing dengan kata “niss”, “auww” atau dengan menyebut nama layaknya nama orang, itu persoalan lain.
Coba kita komparasikan suku kata “pusss” untuk kucing, dan “huss”, “ssah” dan “kurr”. “Huss” atau kadang “Ssah” untuk mengusir hewan. Bisa jadi, dapat dimasukkan universal wisdom (kearifan universal) kategori Bahasa Khusus Hewan. Namun untuk “kurr”, suku kata ini dipergunakan untuk memanggil hewan ternak atau piaraan jenis unggas. Suku kata “kurr” banyak digunakan di daerah Cepu - Blora. Namun belum diketahui apakah digunakan pula di daerah lain, atau di pulau lain, atau bahkan di Negara lain. Sehingga untuk suku kata “kurr”, bisa dikategorikan local wisdom (kearifan lokal) kategori Bahasa Khusus Hewan.
Dan pada beberapa dekade lalu, kearifan lokal (local wisdom) kategori Bahasa Khusus Hewan agaknya menjadi pengetahuan wajib bagi anak-anak dan orang dewasa. Terutama dalam masyarakat agraris. Tanpa mengetahui Bahasa Khusus Hewan, mereka akan kesulitan mengendalikan hewan ternak mereka. Sedangkan pada lain sisi, hewan-hewan ternak seakan juga sudah terbiasa dengan bahasa semacam itu. Perintah yang berbeda, akan dilaksanakan berbeda pula oleh hampir semua hewan ternak. Sehingga  ucapan “jak” dan “her” pasti akan dimaknai berbeda dan berlawanan oleh mereka. (Heri ireng – cepu blora)
Read More »
Dukuh Cancangan adalah dukuhan kecil di ujung selatan Desa Giyanti. Radius 1 km dari pendopo Desa Giyanti Kecamatan Sambong kabupaten Blora. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, Dukuh Cancangan masih belum bernama dan belum menjadi bagian wilayah Desa manapun. Pembagian wilayah Desa saat itu juga belum diadministrasikan dengan baik. Kawasan ini baru dihuni sekitar 8 sampai 9 keluarga. Diperkirakan saat itu terjadi ketika Giyanti masih dipimpin Lurah Darus. 
Suatu saat di dukuh belum bernama itu diketemukan sesosok mayat laki-laki. Kondisi mayat itu dalam posisi terikat. Dibuang dipinggir jalan. Tidak bisa diperkirakan, apakah semasa hidup mayat itu sebagai orang biasa, tokoh politik, atau pejuang ataukah bahkan penjahat. Kabar penemuan mayat tersebut terdengar sampai Distrik Panolan. Sampai pejabat Belanda yang ditugaskan di Distrik Panolan ikut datang melihat mayat tersebut. Belanda pun bertanya pada penduduk setempat. Ternyata, semasa hidup mayat itu bukan penduduk Desa Brabowan, bukan pula penduduk Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora.
Pejabat Belanda itupun memanggil Lurah Brabowan dan Lurah Giyanti untuk membicarakan penguburan jasad tersebut. Pada pembicaraan itu, Lurah Brabowan tidak mau menerima perintah penguburan dengan alasan bukan mayat penduduk Brabowan, dengan begitu bukan tanggung jawabnya. Begitu pula dengan Lurah Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Darus juga tidak mau mengurusi penguburan mayat tersebut, karena juga bukan tanggung jawabnya.
Belum diketahui, apa spirit penolakan Lurah Desa Brabowan dan Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora atas perintah pejabat Belanda di Distrik Panolan Regency Blora. Penulis hanya meraba-raba. Apakah memang sebenarnya Belanda saat itu memang demokratis? Tidak otoriter?. Ataukah karena memang kabar tentang kesaktian Mbah Darus Lurah Giyanti dan Mbah Goh Lurah Brabowan itu yang membuat pejabat Belanda jadi segan.
Lewat cara perintah tidak membuahkan hasil, maka Belanda melakukan negosiasi. Belanda memberikan pilihan pada Lurah Giyanti dan Lurah Brabowan Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Siapapun Lurah yang mau mengurusi penguburan mayat tersebut, maka wilayah dukuhan tempat ditemukan mayat tersebut dimasukkan ke wilayah administrasi mereka. Atas tawaran tersebut, Lurah Giyanti menyanggupi untuk mengurusi penguburan mayat tersebut.
Akhirnya, mayat dikuburkan di kawasan utara pemukiman penduduk. Berdekatan dengan tempat transit yang biasa digunakan para Belanda untuk menambatkan kuda ketika akan inspeksi ataupun bersenang-senang ke wilayah Cepu bagian utara jauh. Cepu bagian utara jauh yang dimaksud bisa Desa Giyanti Kecamatan Sambong, bisa Bleboh Kecamatan Jiken, bisa pula Desa Nanas Kecamatan Jiken Kabupaten Blora. Atau bisa ke Desa Kedewan atau Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro.
 Setelah penguburan mayat dilaksanakan, Belanda selaku pemegang otoritas saat itu mengumumkan bahwa kawasan itu menjadi wilayah administratif Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Digunakan sebagai batasan wilayah adalah sungai besar perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah, dan anakan sungai Kaliareng. Jadi, meskipun secara geografis Dukuh Cancangan lebih dekat dengan Desa Brabowan, namun wilayah administratifnya tetap diikutkan ke Desa Giyanti hingga sekarang.
Meskipun faktanya, penduduk Dukuh Cancangan Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora semua menyekolahkan anaknya dari PAUD, TK, SD, SMP ke Desa Brabowan, namun saat mengurusi administrasi kependudukan, mereka tetap harus ke Kantor Desa Giyanti. Sampai sekarang.
Melihat cerita tutur di atas, terlepas dari like atau dislike, pada kasus tertentu, ternyata kolonial Belanda di Kawedanan Panolan tidak sepenuhnya bersikap otoriter terhadap para rakyat Kabupaten Blora. Hal ini dibuktikan dengan adanya upaya negosiasi antara Belanda dengan Lurah Brabowan serta Lurah Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Dan dapat disimpulkan pula bahwa pada masa kolonial Belanda, batasan wilayah Desa juga belum dipetakan dengan baik. Sebagai catatan pula, Desa Brabowan Kecamatan Sambong adalah penggabungan dari 2 Desa, yaitu Desa Brabowan dan Desa Suwareh.

Dari sisi Kemanusiaan yang adil dan beradabpun, bisa diambil nilai sisi positifnya. Karena saat itu Lurah Giyanti  Kecamatan Sambong Kabupaten Blora dinilai lebih manusiawi, maka sudah sewajarnya bila mendapatkan penghargaan (reward) yang relatif menguntungkan pihaknya. Meskipun dalam hal ini, kita juga harus menghormati pilihan keputusan Lurah Brabowan Mbah Goh saat itu. Lalu kearifan lokalnya di mana? Mari kita diskusikan. (histografi – heri ireng)
Read More »

histografi - kearifan lokal local wisdom pendopo desa giyanti kecamatan sambong kabupaten blora

Local Wisdom – Kearifan Lokal dari Giyanti
Di Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora masih kaya dengan ajaran tentang kearifan lokal. Hanya, pada prakteknya, ajaran tentang kearifan lokal atau local wisdom ini sudah jarang diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari. Dalam tata krama makan minum, membersihkan rumah, perilaku pada orang lebih tua, perilaku pada tamu, tata cara bertamu, dan lain sebagainya. Pendeknya, mulai dari fajar menyingsing,  bangun tidur membuka mata hingga malam hari tidur kembali, semua ada tata caranya.
Pada penyelenggaraan acara-acara penting, masyarakat Desa Giyanti masih berpedoman pada perhitungan Jawa. Pedoman yang mereka gunakan kadang berbeda dengan literatur rata-rata masyarakat Jawa. Rata-rata masyarakat Jawa menggunakan literatur Primbon Betaljemur Adamakna. Sedangkan di Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora, buku Primbon tidak digunakan. Mereka lebih percaya pada perhitungan pola ilmu kejawen Guru Sejati.
Praktek ilmu kejawen Guru Sejati di Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Seakan hati mereka yang menjawab pertanyaan mereka sendiri. Mempercayai prinsip, asal tidak pernah menipu, berkata bohong, tidak melanggar tata norma, maka hati mereka juga tak akan membohongi mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan jawaban setiap pertanyaan melalui hati mereka sendiri. Sedangkan kata hati selalu benar. Bila ada yang salah, maka harus segera introspeksi, menyadari bahwa selama ini pribadi itu masih sengaja berbuat tidak benar.

Fenomena Wormhole Kedung Sumurup Giyanti
Fenomena alam terkenal dari Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora adalah fenomena Sendang atau Kedung Sumurup Giyanti. Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada postingan tersendiri. Karena fenomena ini akan hanya akan mengundang kontroversi.

Geografis Desa Giyanti


Pendopo Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora terletak pada garis Lintang Selatan-7.079819 dan bertemu dengan garis Bujur Timur 111.613430 Berdiri di atas tanah dengan ketinggian …………….. di atas permukaan laut. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Kasiman Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Brabowan Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Ledok Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Sedangkan pada sebelah utara Desa Giyanti berbatasan dengan Desa Bleboh Kecamatan Jiken Kabupaten Blora.
Jarak tempuh dari Desa Giyanti sampai Kantor Kecamatan Sambong Kabupaten Blora sejauh 9 km lewat jalur Gagakan, 10 km lewat jalur Cepu, dan 9,5 km lewat jalur Ledok. Jarak tempuh sampai Pendopo Kabupaten Blora kurang lebih 38 km. Infra struktur jaringan jalan, ada 2 km jalan kabupaten, 9 km jalan desa dan lorong.  Dari sekian panjang jalan tersebut, terdapat 2 jalan aspal, 7 km jalan makadam, dan 2 km jalan yang masih berupa tanah.
Desa Giyanti Sambong Blora memiliki wilayah dengan luas tanah pemajakan 2.543.118 meter persegi. Luas bangunan 9.719 meter persegi. Desa Giyanti terbagi menjadi 3 Dukuhan. Yaitu Dukuh Giyanti Krajan, Trisinan dan Cancangan.  Berpenduduk kurang lebih 2.496 jiwa pada tahun 2015. Laki-laki 1.239 , Perempuan 1.257. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Belum ada catatan tentang jumlah anak di bawah usia kerja, usia produktif, usia tua sehingga secara kasar, angka ketergantungan antara usia non produktif kepada usia produktif belum bisa diketahui.

Sejarah Desa Giyanti
Penulis (Heri ireng) berani menyimpulkan bahwa di Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora pernah terdapat peradaban purba. Sudah dihuni oleh manusia sejak jaman pra-sejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya bukti arkeologis berupa bola-bola batu. Bola-bola batu dari baru kapur relatif mudah diketemukan di wilayah dukuh Giyanti Krajan. Diperkirakan bukan merupakan proses alam. Ada unsur kesengajaan campur tangan manusia pada proses pembentukannya.
Dipercaya, bola-bola batu digunakan oleh manusia modern (homo sapien sapien) jaman pra sejarah sebagai alat berburu. Bahkan bisa jadi digunakan sebagai alat rekreasi, seni rupa, atau lebih ekstrim lagi, juga mungkin digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Hanya, sampai sekarang belum diketemukan bukti artefak lain yang bisa mendukung hipotesis Penulis.
Namun, di dukuh Giyanti Krajan pada sisi timur Tanah Kas Desa terdapat kuburan kuno. Dan di sisi utara Tanah Kas Desa yang sekarang digunakan sebagai Lapangan Bola Desa Giyanti Sambong Blora, terdapat sebuah (atau beberapa) makam kuno pula. Makam tersebut dinyatakan hilang karena sudah ditumbuhi pohon kepuh dan pohon krebet. Middle line pohon krebet lebih dari 2 meter, setinggi kurang lebih 40 meter.
Latar belakang pemilihan nama Giyanti sebagai nama Desa, hanya dikarenakan di kawasan ini pada masa lalu banyak terdapat pohon kelor hutan yang biasa disebut dengan Jayanti. Karena peleburan bahasa, orang menyebut Jayanti menjadi Janti. Dan oleh pemerintah kolonial Belanda ditulis dengan kata Giyanti. Maka hingga sekarang Desa ini disebut dengan Desa Giyanti. Masuk wilayah administratif Kecamatan Sambong Kabupaten Blora.
Pada masa kolonial Belanda, sebelum tahun 1927 desa Giyanti merupakan sebuah pusat kecamatan. Karena pertimbangan lokasi, pusat pemerintahan kecamatan dipindah ke Sambong.  Urutan Kepala Desa Giyanti :
1. Darus (Tahun 1927 s/d 1940)
2. Karman (Tahun 1940 s/d 1944)
3. Suntoro (Tahun 1944 s/d 1945)
4. Soemadi   (Tahun 1946 s/d 1988)
5. Ratno (Tahun 1988 s/d 1996)
6. Tamto Setyawan (Tahun 1998 s/d 2005)
7. Ari Sumarno (Plt) (Tahun 2005 s/d 2007)
8. Muntoyo  (Tahun 2007 s/d sekarang – dua periode)

Pembagian wilayah desa
Dilihat dari struktur pemerintahan, Giyanti dikelola oleh sebuah pemerintahan desa.  Dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Kepala Desa berasal dari penduduk atau putera daerah yang dipilih langsung oleh penduduk desa untuk menduduki jabatan sebagai kepala desa. Pilihan kepala desa dilaksanakan bila masa jabatan seorang Kepala Desa sudah habis, atau bila karena hal-hal tertentu seorang Kepala Desa berhenti dari jabatannya. Kepala Desa Giyanti bertanggungjawab pada Blora melalui Camat Sambong.
Dalam menjalankan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, Kepala Desa dibantu oleh perangkat desa. Wilayah Desa Giyanti dibagi menjadi wilayah yang lebih kecil lagi. Wilayah itu disebut dukuh. Di desa Giyanti terdapat 3 dukuhan, yaitu dukuh Giyanti, dukuh Cancangan, dan dukuh Trisinan. Dukuh Cancangan dan Trisinan masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Dusun. Dan dukuh Giyanti dipimpin langsung oleh Kepala Urusan Pemerintahan Desa Giyanti.

Struktur Organisasi Pemerintah Desa
Kepala Desa                :  Muntoyo
Sekretaris                     :  Ari Sumarno
Kaur Pemerintahan  :  Basuki Riyanto
Kadus Cancangan      :  Nur Wachid
Kadus Trisinan            :  Sasminto
Kaur Umum                 :  Karsi
Kebayan                       :  Rasid
Kaur Kesra                   :  -
Modin                            :  Kasmiran
Petengan                     :  Isnandar
Lembaga Desa
BPD                                 :  Karmin
LKMD                             :  Usodo Tarsono, S.Pd
PKK                                 :  Talmi
Karang Taruna            :  Son Sahari
Kelompok Tani           :  Kasmiran
LMDH                             :  Sareh

Pendidikan
Rata-rata penduduk Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora lulusan SD. Namun, seiring berjalannya waktu, penduduk bertahun kelahiran di atas 1980 sebagian besar sudah menyelesaikan sekolah hingga lulus SMP. Diperkirakan hampir 60 persen dari mereka telah menyelesaikan sekolah hingga jenjang SMA. Dan beberapa menyelesaikan studi setingkat D1, D2, D3, dan Sarjana. Dari beberapa orang lulusan sarjana di Giyanti rata-rata memilih Jurusan Keguruan.
Di Giyanti Sambong Kabupaten Blora, terdapat lembaga pendidikan formal, yaitu : SDN Giyanti 1 dan pendidikan non formal berupa sebuah taman bermain, TK Tunas Karya dan TPA Putra Pertiwi. Sebagian besar anak Giyanti usia balita mengikuti program bermain untuk anak usia dini pada lembaga pendidikan non formal tersebut.
Anak usia Sekolah Dasar, di Dukuh Giyanti dan Trisinan bersekolah di SDN SDN Giyanti 1, anak Dukuh Cancangan bersekolah di SDN Brabowan 3. Sementara anak remaja, sebagian besar bersekolah di SMPN 2 Sambong yang terletak di Desa Brabowan. Beberapa ada yang meneruskan pendidikan di pondok pesantren Al Muhammad Cepu atau di Jombang. Pondok pesantren paling dekat dengan Giyanti adalah pondok pesantren Al Muhammad Cepu.
 Anak usia SMA / SMK / MA rata-rata bersekolah di SMAN 1 Kasiman yang terletak di Desa Kasiman Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Selain itu mereka bersekolah di SMKN 1 Kasiman yang terletak di Desa Sambeng Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Sementara yang lain, ada yang bersekolah di SMK Migas Cepu. SMK Migas Cepu terletak di Kelurahan Cepu dan Kelurahan Karangboyo Kecamatan Cepu Kabupaten Blora.

Peredaran Uang / Potensi Pasar
Perkiraan pengeluaran untuk kebutuhan minimum sehari-hari rata-rata per-jiwa secara layak pada Desa Giyanti Sambong Blora adalah Rp 9.000. Dari sini secara ekstrim dapat diperkirakan bahwa pengeluaran seluruh penduduk di Giyanti Sambong mencapai Rp 22.464.000 tiap harinya. Kurang lebih Rp 157.248.000 tiap minggu, atau Rp 8.199.360.000 per-tahun, atau mencapai 8,2 Miliar rupiah hanya untuk bertahan hidup. Belum diketahui berapa pengeluaran untuk kebutuhan konsumtif lain, seperti listrik, air, uang saku anak, transportasi, kesehatan, atau kebutuhan insidentil lain yang lebih besar.
Untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidup senilai 8,2 Miliar tersebut, penduduk Giyanti Sambong Blora harus bekerja. Melalui kearifan lokal, bagi yang dipercaya Tuhan menguasai lahan pertanian, mengolah lahan pertaniannya. Kadang sambil berternak sapi. Sebagian lagi berternak kambing. Sudah jarang penduduk yang berternak kerbau. Mereka berternak ayam hanya sekedar lalu, bukan sebagai pekerjaan utama. Bagi yang dipercaya Tuhan menguasai ilmu pertukangan, mereka bekerja sebagai tukang atau kuli batu. Terpujilah Tuhan, hingga puluhan tahun ini, tidak ada kabar bahwa penduduk Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora yang mati kelaparan.

Rasio Ketergantungan dan perkiraan perputaran mata uang per-hari di Giyanti Sambong Blora tidak dapat dibaca secara hitam putih. Namun perkiraan dalam Histografi ini masihlah perhitungan kasar, perlu penelitian kualitatif yang inten. Penelitian kualitatif dapat dilakukan oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat di Giyanti Sambong Blora. Informasi hasil penelitian dapat digunakan sebagai materi penentuan arah pembangunan di Giyanti. (histografi – heri ireng)
Read More »
histografi - local wisdom kearifan lokal DPRD Kabupaten Blora
Untuk Visi Misi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Blora, sementara ini masih dalam proses pencarian sumber yang valid. Namun dari beberapa sumber yang penulis temui, alangkah baiknya bila Visi Misi DPRD Kabupaten Blora disamakan dengan Visi Misi Bupati Blora saat ini. Dengan demikian akan terbawa oleh kearifan lokal atau local wisdom yang ada, sehingga antara eksekutif dan legislatif dapat berjalan seiringan. Tidak seperti periode-periode sebelumnya. [ Heri ireng - cepu blora ]
Read More »
histografi - local wisdom kearifan lokal kejaksaan negeri blora
Merujuk pada Instruksi Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor INS-002/A/JA/1/2005 Tentang Perencanaan Stratejik dan Rencana Kinerja Kejaksaan RI tAHUN 2005, dapat disimpulkan bahwa Visi Kejaksaan Negeri Blora adalah : "Mewujudkan Kejaksaan Negeri Blora sebagai Lembaga Penegak Hukum yang Melaksanakan Tugasnya secara Independen dengan Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia dalam Negara Hukum berdasarkan Pancasila".
Sedangkan Misi Kejaksaan Negeri Blora adalah :
1. Menyatukan Tata Pikir, Tata Laku dan Tata Kerja dalam Penegakan Hukum di Kabupaten Blora
2. Optimalisasi Pemberantasan Korupsi Kolusi Nepotisme dan Penuntasan Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Kabupaten Blora
3. Menyesuaikan Sistem dan Tata Laksana Pelayanan dan Penegakan Hukum dengan Mengingat Norma Keagamaan, Kesusilaan, Kesopanan dengan memperhatikan Rasa Keadilan dan Nilai-Nilai Kemanusiaan Masyarakat Kabupaten Blora. [ Heri ireng - Cepu Blora ]
Read More »

Cari Blog Ini

Entri Populer

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *