Kearifan Lokal (Local Wisdom) Bahasa Khusus Hewan cepu blora
Dalam kearifan lokal (local wisdom) leluhur Jawa, mungkin tidak hanya di Cepu atau Blora, ada beberapa bahasa sederhana yang pemakaiannya hanya digunakan untuk hewan. Bisa jadi, bahasa khusus untuk hewan ternak ini merupakan aktualisasi penghormatan leluhur pada hewan. Bentuk aktualisasi lain yang menumbuhkan penghormatan bagi hewan adalah adanya legenda malihnya manusia menjadi binatang. Semisal kera spesies “lutung” atau “benthung” adalah malihan dari seorang anak yang tidak sabaran. Dan masih banyak lagi.
Kearifan lokal (local wisdom) tentang bahasa khusus hewan paling biasa digunakan adalah bahasa untuk hewan ternak besar berkaki empat. Hewan ternak besar berkaki empat ini biasa disebut raja kaya. Meskipun pada akhirnya, hewan kuda dan yang sejenis dengan kuda juga termasuk kategori ini. Bahasa khusus hewan itu adalah “jak”, “her”, “go”, “ce’” dan “nggon”. Silahkan pada para pembaca, mungkin ada beberapa suku kata lagi yang bisa menambahi.
Dalam kearifan lokal (local wisdom) Bahasa Khusus Hewan, kata yang dipergunakan memang kebanyakan terdiri dari satu suku kata saja. Lebih mudah dimaknai sebagai bahasa isyarat. Namun bila disebut bahasa isyarat juga tidak tepat, karena sudah menghasilkan bunyi dialogis. Sedangkan bila dikatakan sebagai Bahasa Khusus Hewan, tidak begitu tepat juga. Seakan kita membuat kategori bahasa lagi. Dan itu terkesan terlalu mewah bagi para ahli bahasa.
Pada jenis hewan lain, hingga sekarang kitapun masih sering menggunakannya. Penggunaan bahasa ini juga dikategorikan sebagai sebuah kearifan lokal (lokal wisdom). Salah satunya adalah “puss”, untuk memanggil kucing. Bahkan agaknya, khusus suku kata “puss” ini bisa dikategorikan kearifan universal (universal wisdom). Hampir di seluruh dunia menggunakan kata “puss” untuk memanggil kucing. Bila ada yang memanggil kucing dengan kata “niss”, “auww” atau dengan menyebut nama layaknya nama orang, itu persoalan lain.
Coba kita komparasikan suku kata “pusss” untuk kucing, dan “huss”, “ssah” dan “kurr”. “Huss” atau kadang “Ssah” untuk mengusir hewan. Bisa jadi, dapat dimasukkan universal wisdom (kearifan universal) kategori Bahasa Khusus Hewan. Namun untuk “kurr”, suku kata ini dipergunakan untuk memanggil hewan ternak atau piaraan jenis unggas. Suku kata “kurr” banyak digunakan di daerah Cepu - Blora. Namun belum diketahui apakah digunakan pula di daerah lain, atau di pulau lain, atau bahkan di Negara lain. Sehingga untuk suku kata “kurr”, bisa dikategorikan local wisdom (kearifan lokal) kategori Bahasa Khusus Hewan.
Dan pada beberapa dekade lalu, kearifan lokal (local wisdom) kategori Bahasa Khusus Hewan agaknya menjadi pengetahuan wajib bagi anak-anak dan orang dewasa. Terutama dalam masyarakat agraris. Tanpa mengetahui Bahasa Khusus Hewan, mereka akan kesulitan mengendalikan hewan ternak mereka. Sedangkan pada lain sisi, hewan-hewan ternak seakan juga sudah terbiasa dengan bahasa semacam itu. Perintah yang berbeda, akan dilaksanakan berbeda pula oleh hampir semua hewan ternak. Sehingga  ucapan “jak” dan “her” pasti akan dimaknai berbeda dan berlawanan oleh mereka. (Heri ireng – cepu blora)

Artikel Terkait

Cari Blog Ini

Entri Populer

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *