histografi - kearifan lokal local wisdom pendopo desa giyanti kecamatan sambong kabupaten blora

Local Wisdom – Kearifan Lokal dari Giyanti
Di Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora masih kaya dengan ajaran tentang kearifan lokal. Hanya, pada prakteknya, ajaran tentang kearifan lokal atau local wisdom ini sudah jarang diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari. Dalam tata krama makan minum, membersihkan rumah, perilaku pada orang lebih tua, perilaku pada tamu, tata cara bertamu, dan lain sebagainya. Pendeknya, mulai dari fajar menyingsing,  bangun tidur membuka mata hingga malam hari tidur kembali, semua ada tata caranya.
Pada penyelenggaraan acara-acara penting, masyarakat Desa Giyanti masih berpedoman pada perhitungan Jawa. Pedoman yang mereka gunakan kadang berbeda dengan literatur rata-rata masyarakat Jawa. Rata-rata masyarakat Jawa menggunakan literatur Primbon Betaljemur Adamakna. Sedangkan di Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora, buku Primbon tidak digunakan. Mereka lebih percaya pada perhitungan pola ilmu kejawen Guru Sejati.
Praktek ilmu kejawen Guru Sejati di Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Seakan hati mereka yang menjawab pertanyaan mereka sendiri. Mempercayai prinsip, asal tidak pernah menipu, berkata bohong, tidak melanggar tata norma, maka hati mereka juga tak akan membohongi mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan jawaban setiap pertanyaan melalui hati mereka sendiri. Sedangkan kata hati selalu benar. Bila ada yang salah, maka harus segera introspeksi, menyadari bahwa selama ini pribadi itu masih sengaja berbuat tidak benar.

Fenomena Wormhole Kedung Sumurup Giyanti
Fenomena alam terkenal dari Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora adalah fenomena Sendang atau Kedung Sumurup Giyanti. Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada postingan tersendiri. Karena fenomena ini akan hanya akan mengundang kontroversi.

Geografis Desa Giyanti


Pendopo Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora terletak pada garis Lintang Selatan-7.079819 dan bertemu dengan garis Bujur Timur 111.613430 Berdiri di atas tanah dengan ketinggian …………….. di atas permukaan laut. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Kasiman Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Brabowan Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Ledok Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Sedangkan pada sebelah utara Desa Giyanti berbatasan dengan Desa Bleboh Kecamatan Jiken Kabupaten Blora.
Jarak tempuh dari Desa Giyanti sampai Kantor Kecamatan Sambong Kabupaten Blora sejauh 9 km lewat jalur Gagakan, 10 km lewat jalur Cepu, dan 9,5 km lewat jalur Ledok. Jarak tempuh sampai Pendopo Kabupaten Blora kurang lebih 38 km. Infra struktur jaringan jalan, ada 2 km jalan kabupaten, 9 km jalan desa dan lorong.  Dari sekian panjang jalan tersebut, terdapat 2 jalan aspal, 7 km jalan makadam, dan 2 km jalan yang masih berupa tanah.
Desa Giyanti Sambong Blora memiliki wilayah dengan luas tanah pemajakan 2.543.118 meter persegi. Luas bangunan 9.719 meter persegi. Desa Giyanti terbagi menjadi 3 Dukuhan. Yaitu Dukuh Giyanti Krajan, Trisinan dan Cancangan.  Berpenduduk kurang lebih 2.496 jiwa pada tahun 2015. Laki-laki 1.239 , Perempuan 1.257. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Belum ada catatan tentang jumlah anak di bawah usia kerja, usia produktif, usia tua sehingga secara kasar, angka ketergantungan antara usia non produktif kepada usia produktif belum bisa diketahui.

Sejarah Desa Giyanti
Penulis (Heri ireng) berani menyimpulkan bahwa di Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora pernah terdapat peradaban purba. Sudah dihuni oleh manusia sejak jaman pra-sejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya bukti arkeologis berupa bola-bola batu. Bola-bola batu dari baru kapur relatif mudah diketemukan di wilayah dukuh Giyanti Krajan. Diperkirakan bukan merupakan proses alam. Ada unsur kesengajaan campur tangan manusia pada proses pembentukannya.
Dipercaya, bola-bola batu digunakan oleh manusia modern (homo sapien sapien) jaman pra sejarah sebagai alat berburu. Bahkan bisa jadi digunakan sebagai alat rekreasi, seni rupa, atau lebih ekstrim lagi, juga mungkin digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Hanya, sampai sekarang belum diketemukan bukti artefak lain yang bisa mendukung hipotesis Penulis.
Namun, di dukuh Giyanti Krajan pada sisi timur Tanah Kas Desa terdapat kuburan kuno. Dan di sisi utara Tanah Kas Desa yang sekarang digunakan sebagai Lapangan Bola Desa Giyanti Sambong Blora, terdapat sebuah (atau beberapa) makam kuno pula. Makam tersebut dinyatakan hilang karena sudah ditumbuhi pohon kepuh dan pohon krebet. Middle line pohon krebet lebih dari 2 meter, setinggi kurang lebih 40 meter.
Latar belakang pemilihan nama Giyanti sebagai nama Desa, hanya dikarenakan di kawasan ini pada masa lalu banyak terdapat pohon kelor hutan yang biasa disebut dengan Jayanti. Karena peleburan bahasa, orang menyebut Jayanti menjadi Janti. Dan oleh pemerintah kolonial Belanda ditulis dengan kata Giyanti. Maka hingga sekarang Desa ini disebut dengan Desa Giyanti. Masuk wilayah administratif Kecamatan Sambong Kabupaten Blora.
Pada masa kolonial Belanda, sebelum tahun 1927 desa Giyanti merupakan sebuah pusat kecamatan. Karena pertimbangan lokasi, pusat pemerintahan kecamatan dipindah ke Sambong.  Urutan Kepala Desa Giyanti :
1. Darus (Tahun 1927 s/d 1940)
2. Karman (Tahun 1940 s/d 1944)
3. Suntoro (Tahun 1944 s/d 1945)
4. Soemadi   (Tahun 1946 s/d 1988)
5. Ratno (Tahun 1988 s/d 1996)
6. Tamto Setyawan (Tahun 1998 s/d 2005)
7. Ari Sumarno (Plt) (Tahun 2005 s/d 2007)
8. Muntoyo  (Tahun 2007 s/d sekarang – dua periode)

Pembagian wilayah desa
Dilihat dari struktur pemerintahan, Giyanti dikelola oleh sebuah pemerintahan desa.  Dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Kepala Desa berasal dari penduduk atau putera daerah yang dipilih langsung oleh penduduk desa untuk menduduki jabatan sebagai kepala desa. Pilihan kepala desa dilaksanakan bila masa jabatan seorang Kepala Desa sudah habis, atau bila karena hal-hal tertentu seorang Kepala Desa berhenti dari jabatannya. Kepala Desa Giyanti bertanggungjawab pada Blora melalui Camat Sambong.
Dalam menjalankan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, Kepala Desa dibantu oleh perangkat desa. Wilayah Desa Giyanti dibagi menjadi wilayah yang lebih kecil lagi. Wilayah itu disebut dukuh. Di desa Giyanti terdapat 3 dukuhan, yaitu dukuh Giyanti, dukuh Cancangan, dan dukuh Trisinan. Dukuh Cancangan dan Trisinan masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Dusun. Dan dukuh Giyanti dipimpin langsung oleh Kepala Urusan Pemerintahan Desa Giyanti.

Struktur Organisasi Pemerintah Desa
Kepala Desa                :  Muntoyo
Sekretaris                     :  Ari Sumarno
Kaur Pemerintahan  :  Basuki Riyanto
Kadus Cancangan      :  Nur Wachid
Kadus Trisinan            :  Sasminto
Kaur Umum                 :  Karsi
Kebayan                       :  Rasid
Kaur Kesra                   :  -
Modin                            :  Kasmiran
Petengan                     :  Isnandar
Lembaga Desa
BPD                                 :  Karmin
LKMD                             :  Usodo Tarsono, S.Pd
PKK                                 :  Talmi
Karang Taruna            :  Son Sahari
Kelompok Tani           :  Kasmiran
LMDH                             :  Sareh

Pendidikan
Rata-rata penduduk Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora lulusan SD. Namun, seiring berjalannya waktu, penduduk bertahun kelahiran di atas 1980 sebagian besar sudah menyelesaikan sekolah hingga lulus SMP. Diperkirakan hampir 60 persen dari mereka telah menyelesaikan sekolah hingga jenjang SMA. Dan beberapa menyelesaikan studi setingkat D1, D2, D3, dan Sarjana. Dari beberapa orang lulusan sarjana di Giyanti rata-rata memilih Jurusan Keguruan.
Di Giyanti Sambong Kabupaten Blora, terdapat lembaga pendidikan formal, yaitu : SDN Giyanti 1 dan pendidikan non formal berupa sebuah taman bermain, TK Tunas Karya dan TPA Putra Pertiwi. Sebagian besar anak Giyanti usia balita mengikuti program bermain untuk anak usia dini pada lembaga pendidikan non formal tersebut.
Anak usia Sekolah Dasar, di Dukuh Giyanti dan Trisinan bersekolah di SDN SDN Giyanti 1, anak Dukuh Cancangan bersekolah di SDN Brabowan 3. Sementara anak remaja, sebagian besar bersekolah di SMPN 2 Sambong yang terletak di Desa Brabowan. Beberapa ada yang meneruskan pendidikan di pondok pesantren Al Muhammad Cepu atau di Jombang. Pondok pesantren paling dekat dengan Giyanti adalah pondok pesantren Al Muhammad Cepu.
 Anak usia SMA / SMK / MA rata-rata bersekolah di SMAN 1 Kasiman yang terletak di Desa Kasiman Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Selain itu mereka bersekolah di SMKN 1 Kasiman yang terletak di Desa Sambeng Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Sementara yang lain, ada yang bersekolah di SMK Migas Cepu. SMK Migas Cepu terletak di Kelurahan Cepu dan Kelurahan Karangboyo Kecamatan Cepu Kabupaten Blora.

Peredaran Uang / Potensi Pasar
Perkiraan pengeluaran untuk kebutuhan minimum sehari-hari rata-rata per-jiwa secara layak pada Desa Giyanti Sambong Blora adalah Rp 9.000. Dari sini secara ekstrim dapat diperkirakan bahwa pengeluaran seluruh penduduk di Giyanti Sambong mencapai Rp 22.464.000 tiap harinya. Kurang lebih Rp 157.248.000 tiap minggu, atau Rp 8.199.360.000 per-tahun, atau mencapai 8,2 Miliar rupiah hanya untuk bertahan hidup. Belum diketahui berapa pengeluaran untuk kebutuhan konsumtif lain, seperti listrik, air, uang saku anak, transportasi, kesehatan, atau kebutuhan insidentil lain yang lebih besar.
Untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidup senilai 8,2 Miliar tersebut, penduduk Giyanti Sambong Blora harus bekerja. Melalui kearifan lokal, bagi yang dipercaya Tuhan menguasai lahan pertanian, mengolah lahan pertaniannya. Kadang sambil berternak sapi. Sebagian lagi berternak kambing. Sudah jarang penduduk yang berternak kerbau. Mereka berternak ayam hanya sekedar lalu, bukan sebagai pekerjaan utama. Bagi yang dipercaya Tuhan menguasai ilmu pertukangan, mereka bekerja sebagai tukang atau kuli batu. Terpujilah Tuhan, hingga puluhan tahun ini, tidak ada kabar bahwa penduduk Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora yang mati kelaparan.

Rasio Ketergantungan dan perkiraan perputaran mata uang per-hari di Giyanti Sambong Blora tidak dapat dibaca secara hitam putih. Namun perkiraan dalam Histografi ini masihlah perhitungan kasar, perlu penelitian kualitatif yang inten. Penelitian kualitatif dapat dilakukan oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat di Giyanti Sambong Blora. Informasi hasil penelitian dapat digunakan sebagai materi penentuan arah pembangunan di Giyanti. (histografi – heri ireng)

Artikel Terkait

Cari Blog Ini

Entri Populer

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *