Dukuh Cancangan adalah dukuhan kecil di ujung selatan Desa Giyanti. Radius 1 km dari pendopo Desa Giyanti Kecamatan Sambong kabupaten Blora. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, Dukuh Cancangan masih belum bernama dan belum menjadi bagian wilayah Desa manapun. Pembagian wilayah Desa saat itu juga belum diadministrasikan dengan baik. Kawasan ini baru dihuni sekitar 8 sampai 9 keluarga. Diperkirakan saat itu terjadi ketika Giyanti masih dipimpin Lurah Darus. 
Suatu saat di dukuh belum bernama itu diketemukan sesosok mayat laki-laki. Kondisi mayat itu dalam posisi terikat. Dibuang dipinggir jalan. Tidak bisa diperkirakan, apakah semasa hidup mayat itu sebagai orang biasa, tokoh politik, atau pejuang ataukah bahkan penjahat. Kabar penemuan mayat tersebut terdengar sampai Distrik Panolan. Sampai pejabat Belanda yang ditugaskan di Distrik Panolan ikut datang melihat mayat tersebut. Belanda pun bertanya pada penduduk setempat. Ternyata, semasa hidup mayat itu bukan penduduk Desa Brabowan, bukan pula penduduk Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora.
Pejabat Belanda itupun memanggil Lurah Brabowan dan Lurah Giyanti untuk membicarakan penguburan jasad tersebut. Pada pembicaraan itu, Lurah Brabowan tidak mau menerima perintah penguburan dengan alasan bukan mayat penduduk Brabowan, dengan begitu bukan tanggung jawabnya. Begitu pula dengan Lurah Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Darus juga tidak mau mengurusi penguburan mayat tersebut, karena juga bukan tanggung jawabnya.
Belum diketahui, apa spirit penolakan Lurah Desa Brabowan dan Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora atas perintah pejabat Belanda di Distrik Panolan Regency Blora. Penulis hanya meraba-raba. Apakah memang sebenarnya Belanda saat itu memang demokratis? Tidak otoriter?. Ataukah karena memang kabar tentang kesaktian Mbah Darus Lurah Giyanti dan Mbah Goh Lurah Brabowan itu yang membuat pejabat Belanda jadi segan.
Lewat cara perintah tidak membuahkan hasil, maka Belanda melakukan negosiasi. Belanda memberikan pilihan pada Lurah Giyanti dan Lurah Brabowan Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Siapapun Lurah yang mau mengurusi penguburan mayat tersebut, maka wilayah dukuhan tempat ditemukan mayat tersebut dimasukkan ke wilayah administrasi mereka. Atas tawaran tersebut, Lurah Giyanti menyanggupi untuk mengurusi penguburan mayat tersebut.
Akhirnya, mayat dikuburkan di kawasan utara pemukiman penduduk. Berdekatan dengan tempat transit yang biasa digunakan para Belanda untuk menambatkan kuda ketika akan inspeksi ataupun bersenang-senang ke wilayah Cepu bagian utara jauh. Cepu bagian utara jauh yang dimaksud bisa Desa Giyanti Kecamatan Sambong, bisa Bleboh Kecamatan Jiken, bisa pula Desa Nanas Kecamatan Jiken Kabupaten Blora. Atau bisa ke Desa Kedewan atau Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro.
 Setelah penguburan mayat dilaksanakan, Belanda selaku pemegang otoritas saat itu mengumumkan bahwa kawasan itu menjadi wilayah administratif Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Digunakan sebagai batasan wilayah adalah sungai besar perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah, dan anakan sungai Kaliareng. Jadi, meskipun secara geografis Dukuh Cancangan lebih dekat dengan Desa Brabowan, namun wilayah administratifnya tetap diikutkan ke Desa Giyanti hingga sekarang.
Meskipun faktanya, penduduk Dukuh Cancangan Desa Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora semua menyekolahkan anaknya dari PAUD, TK, SD, SMP ke Desa Brabowan, namun saat mengurusi administrasi kependudukan, mereka tetap harus ke Kantor Desa Giyanti. Sampai sekarang.
Melihat cerita tutur di atas, terlepas dari like atau dislike, pada kasus tertentu, ternyata kolonial Belanda di Kawedanan Panolan tidak sepenuhnya bersikap otoriter terhadap para rakyat Kabupaten Blora. Hal ini dibuktikan dengan adanya upaya negosiasi antara Belanda dengan Lurah Brabowan serta Lurah Giyanti Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Dan dapat disimpulkan pula bahwa pada masa kolonial Belanda, batasan wilayah Desa juga belum dipetakan dengan baik. Sebagai catatan pula, Desa Brabowan Kecamatan Sambong adalah penggabungan dari 2 Desa, yaitu Desa Brabowan dan Desa Suwareh.

Dari sisi Kemanusiaan yang adil dan beradabpun, bisa diambil nilai sisi positifnya. Karena saat itu Lurah Giyanti  Kecamatan Sambong Kabupaten Blora dinilai lebih manusiawi, maka sudah sewajarnya bila mendapatkan penghargaan (reward) yang relatif menguntungkan pihaknya. Meskipun dalam hal ini, kita juga harus menghormati pilihan keputusan Lurah Brabowan Mbah Goh saat itu. Lalu kearifan lokalnya di mana? Mari kita diskusikan. (histografi – heri ireng)

Artikel Terkait

Cari Blog Ini

Entri Populer

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *