HISTOGRAFI Kearifan Lokal / Local Wisdom Investasi Ternak Ketua Pangon Desa Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah
Hidup harus tetap berlanjut. Biarkan saja badai datang silih berganti. Sekejap kan malih rupa. Menjadi terpaan semilir bayu warna. Terasa lembut. Membuai luka yang mungkin pernah ada. Begitupun kehidupan para warga pedesaan. Mereka tetap akan hidup. Bermula dari agraris tradisional. Konservatif. Terlihat sekedar menjalankan hidup. Tanpa sentuhan keindahan. Kemudian berubah sesuai tuntutan jaman. Konsekuensinya, mau tak mau, mereka tinggalkan local wisdom kearifan lokal yang pernah ada.
Bagi saudara-saudara warga pedesaan, mengikuti local wisdom atau kearifan lokal dengan pola kehidupan agraris, agaknya sudah tidak relevan lagi. Tidak relevan ketika dikorelasikan dengan ketersediaan sumber daya dan kebutuhan jaman sekarang. Pola kehidupan agraris masa lalu begitu sederhananya. Bagi perempuan dan anak, butuhnya cukup makan dan pakaian. Anak tidak butuh pengetahuan yang tidak perlu. Cukup bisa baca huruf Al Qur’an, membaca, menulis, berhitung (calistung) menggunakan huruf dan angka Latin. Dan satu lagi, tahu bahasa sederhana khusus untuk hewan.
Kearifan lokal (local wisdom) tentang Bahasa Khusus Hewan ada pada postingan tersendiri. Secara garis besar, kita berusaha mengingatkan bahwa para leluhur cukup hormat dengan sesama makhluk. Hingga muncul beberapa kata baku untuk berkomunikasi dengan hewan ternak. Sebenarnya bukan hanya hewan ternak. Bila dicermati, bahasa yang diperuntukkan bagi hewan liarpun juga pernah diciptakan leluhur kita, sehingga muncullah para pawang binatang liar. Para Pawang itu berkomunikasi dengan hewan dengan cara dan bahasa mereka.

Local Wisdom (Kearifan Lokal) Ternak Sebagai Investasi
Dalam local wisdom (kearifan lokal) masyarakat agraris perdesaan, tugas anak hanya bermain sambil membantu orang tua. Terutama mengurusi ternak orang tua mereka. Masyarakat agraris perdesaan memelihara ternak sebagai cadangan “kebutuhan besar”, atau sebagai “tabungan”. Mereka tidak mengenal bank, tidak mengenal investasi usaha. Tabungan mereka adalah hewan ternak. Investasi mereka bukan tanah, tapi hewan ternak.
Memelihara hewan ternak adalah satu-satunya local wisdom (kearifan lokal) di bidang investasi. Nenek moyang / para leluhur warga agraris tidak mengenal investasi tanah, rumah, emas apalagi dolar. Tanah mereka hormati sebagai lahan bercocok tanam. Rumah dirawat sebagai rasa terima kasih pada Tuhan atas perlindungan dari cuaca ekstrim. Emas digunakan sebagai perhiasan. Uang hanya dipandang sebagai salah satu alat tukar. Uang logam digunakan sebagai alat hitung pemilihan hari baik.
Pada proses pemeliharaannya, leluhur mengenal kasih sayang pada hewan ternak. Kadang penghormatan yang berlebihan. Setiap pagi pada hari-hari tertentu dimandikan pakai air hangat. Terutama untuk hewan ternak berupa sapi. Diberi minum campuran air garam. Tiap malam di”bediangi” atau dibuatkan asap untuk menjaga dari nyamuk. Dan beberapa bentuk kearifan lokal (local wisdom) lain, yang bisa jadi kita bahas pada postingan lain.
Simbol Penggembala Kerbau sebagai Kearifan Lokal (Local Wisdom)
Pengembala kerbau, biasa digunakan sebagai simbol produktertentu. Bukan hanya produk cat lokal, perusahaan intelek sebesar KOMPAS GRAMEDIA pun menggunakan gembala kerbau sebagai simbolnya. Tidak itu saja, tak jarang kita temui lukisan penghias dinding dari rumah sederhana hingga rumah mewah biasa kita temui lukisan penggembala. Dan kebanyakan bukan penggembala sapi atau kambing. Tapi penggembala kerbau.
Dan, usia penggembala adalah usia anak-anak. Pose yang diambil rata-rata statis. Atribut yang digunakan juga relatif sama, seruling bambu dan caping atau topi petani dari bambu. Topi petani atau caping, berbentuk kerucut lebar. Sambil menunggang kerbau...!. Andaikan ada ornamen tambahan, maka ornamen itu berbentuk pohon kelapa dan matahari. Jadi, simbol atau lukisan itu berbentuk seorang anak bermain seruling di atas punggung kerbau pada waktu menjelang senja hari.
Pertanyaannya sekarang, mengapa anak-anak? Bukan orang dewasa? Jawabnya sangat sederhana. Karena, kultur kita memang mewariskan seperti itu. Pekerjaaan menggembala ternak adalah pekerjaan anak-anak. Bukan pekerjaan orang dewasa. Dalam hal ini lebih tepat bila maknai sebagai pekerjaan kelompok non produktif. Karena, pekerjaan menggembala ternak juga dilakukan oleh orang-orang lanjut usia. Hanya, yang membedakan adalah, dulu sering ditemukan anak yang bekerja sebagai penggembala atau sering disebut 'pangon'. Sedangkan tidak pernah ditemui 'pangon' lanjut usia.
Definisi 'pangon' adalah seorang anak yang bekerja kontrak sebagai penggembala binatang ternak pada seorang pemilik ternak dengan imbalan satu atau beberapa ekor anak ternak bila waktu kontrak telah selesai, selama masa kontrak pangon diberikan tempat menginap, makan, minum, pakaian sekedarnya, dan bila terjadi kerugian yang disebabkan kelalaian 'pangon' menjadi tanggungan majikan ('Ndara') atau tuannya. Dalam satu Desa dapat ditemukan beberapa anak berprofesi sebagai 'pangon'.

Kepala Pangon sebagai Kearifan Lokal (Local Wisdom)
Karena usia penggembala atau 'pangon' masih di bawah umur, maka sudah dapat dipastikan bila tingkat human errornya juga tinggi. Bagi anak-anak, lokasi penggembalaan adalah arena permainan juga. Sambil menggembala, sambil bermain. Tidak perduli kemarau atau penghujan. Mereka tetap bersosialisasi, bermain sambil menjaga ternak mereka.
Namanya juga anak-anak. Bermain sepanjang waktu. Saat sendiri tetap bermain, apalagi bila sudah bertemu teman sebaya. Wajar bila akuntabilitas mereka juga kurang. Sulit membagi konsentrasi antara menggembala dengan bermain. Kasus yang kerap kali timbul, karena konsentrasi mereka beralih ke permainan, hewan ternak jadi tak terjaga dengan baik. Hewan ternak masuk area tanaman.
Bisa tanaman penduduk sipil, bisa tanaman milik Perhutani kalau di Jawa. Oleh orang lokal Jawa, tanaman milik Perhutani biasa disebut dengan 'jangglengan'. Janggleng sendiri adalah nama biji pohon Jati. Memang jarang yang mengakibatkan kerusakan tanaman sampai fatal. Tapi sudah cukup menimbulkan konflik horisontal antara pemilik tanaman dengan pemilik ternak.
Untuk meminimalisir konflik semacam ini, maka ditunjuklah seorang anak gembala paling tua untuk dijadikan sebagai Kepala Pangon. Melalui kearifan lokal (local wisdom) penunjukan Kepala Pangon ini biasanya dilakukan oleh seorang Kamituwo atau Kepala Dukuh. Tugas pokok dan fungsi Kepala Pangon bukanlah seperti atasan, tapi lebih pada jalur koordinasi. Hanya, untuk memudahkan penyebutan, masyarakat agraris saat itu menyebutnya dengan Kepala Pangon dan bukan Ketua Pangon.
Namun agaknya local wisdom (kearifan lokal) tentang Kepala Pangon ini sudah tidak diimplementasikan lagi pada tata kehidupan masyarakat Jawa sekarang. Para petani sekarang memilih mengandangkan ternak mereka daripada menggembalakannya. Tiap hari mereka mengalahi 'ngarit' (menyabit rumput). Mencari 'dami' (jerami) kadang sampai luar daerah, atau membeli 'tebon' (batang jagung) berdaun untuk ternaknya di kandang rumah. Semua itu dilakukan karena keinginan berinvestasi berupa ternak seiring dengan semakin sempitnya lahan penggembalaan. (Heri ireng)

Artikel Terkait

Cari Blog Ini

Entri Populer

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *